Kami adalah anak anak yang luar biasa, kuat menghadapi berbagai cobaan yang sangat menyakitkan. Sesungguhnya dari hati kecil kami tak ingin kata kata ini terlontar, tapi apa kami hanya bisa diam dan mengunci mulut kami serapat rapatnya?? Kami adalah makhluk yang sangat berterima kasih, kami tau diri terhadap apa yang kami terima dan apa yang kami lakukan. Kami ini orang orang yang berotak dan memiliki ilmu yang tak mudah di bohongi dan di sakiti.
10 tahun sudah sekolah kami berdiri, 10 generasi unggul pun telah diciptakan, dan asal tahu saja, bukan main lelahnya perjuangan kami untuk tetap mengkokohkan pondasi kebanggaan unggul ini, sungguh penuh dengan jeritan dan air mata. Menguras energi fisik dan batin kami. Tetapi Kami selalu berjuang dan berusaha mati matian untuk mendapatkan semua kesuksesan ini.
Kami sadar hidup kami ini serba gratis, makan kami gratis, uang sekolah kami gratis, buku buku kami gratis, listrik kami gratis, dan berbagai fasilitas lainnya gratis. Yang tak semua anak di Indonesia khususnya di Aceh dapat merasakannya. Kami juga tahu hanya sekolah kami yang masih gratis tanpa di pungut biaya sepeserpun di Aceh ini.
Tapiiiiii . . . . . . . .
Apakah kami sudah meminta lebih setelah apa yang kami berikan untuk membanggakan dan memajukan daerah ini ? ?
Sampai sampai para pemimpin yang terhormat meremehkan dan menginjak injak segala keberhasilan kami yang telah kami ukir setinggi tinggi nya??
Ya tuhannn . . .
Apa dosa kami ???
Kenapa orang itu tak menghargai sedikitpun akan usaha kami ini??
Kenapa kami harus tetap di campakkan seperti ini?
Apa kami tak berguna ??
Apa kami hanya anak anak ingusan yang tak bisa berbuat apa apa??
Eiiitsssss . . . . . . !!
Jika memang tanggapannya seperti itu, sungguh orang itu lah yang tak punya pikiran yang cerdas. Tak pernah ada sejarah sebelumnya pendidikan itu menjadi hal no 10. Hai pak, buk, pendidikan itu tetap no satu !! apa perlu kami jelaskan lagi? Dan apa perlu kami eja lagi apa itu pendidikan ??
Bertahun tahun sudah semua prestasi ini tetap dipertahankan, semua tetap di raih setinggi tingginya. Kemana kami pergi kami bawa nama daerah, kami banggakan daerah ini. Sungguh orang tua kamipun sangat bangga dengan apa yang kami raih dan guru guru kami berharap semua ini akan tetap bertahan. Dan kami juga berharap seperti itu, sekolah kami tetap menjadi yang terbaik sampai kapanpun.
Namunnn . . . .
Apakan sikap kami ini tetap benar atau salah . . ??
Apakah kami masih boleh berharap setelah apa yang kami rasakan dan kami terima selama ini?
Kini hati kami terluka, cita cita kami di ambang kehancuran dan mungkin nyawa kami pun nyaris melayang beberapa saat lagi jika hal ini memang tidak diperdulikan sama sekali.
Kalian perlu tahu kalau kami rela berjauhan dari orang tua kami demi cita cita tinggi kami ini, kami merelakan masa masa indah remaja kami hanya untuk belajar exstra di sekolah ini karena kami ingin orang tua kami tersenyum melihat semua keberhasilan kami nanti.
Orang tua kami bukan seorang pedagang kaya, bukan pejabat tinggi, dan bukan seorang konglomerat yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal dan bermutu yang dapat memberikan fasilitas apa pun yang kami inginkan, orang tua kami tahu niat tulus kami untuk belajar keras dan menjadi orang sukses kelak, dan kini pendidikan untuk bisa menjadi sukses itu mahal. Dan orang tua kami sangat berterima kasih karena masih ada sekolah yang menyediakan segala kegratisan sehingga ayah dan ibu kami tak perlu memutar otak dua kali dan bekerja banting tulang untuk menyekolahkan anaknya.
Entah mengapa semua ini terjadi, kami menjadi anak buangan yang dianggap tidak berarti, sampai nyawa kami kini yang terancam pun di biarkan begitu saja. Apa kalian menunggu nyawa kami melayang dulu baru mau memperhatikan kami dan mengingat perjuangan perjuangan kami?
Kami mengharapkan kepedulian anda semua, tak tenang tidur kami hidup di tempat yang telah rubuh. Konsentrasi kami hilang mengingat bagaimana keadaan dan nasib kami ini. Dan orang tua kami harap harap cemas di rumah memikirkan anaknya yang tinggal di tempat yang menunggu waktu untuk rubuh. Dan ingatlah kalau kami bukan anak anak buangan dan anak anak yang tidak di butuhkan saat ini dan suatu saat nanti.
Ini semua hanya segelintir jeritan jeritan pilu kami, masih banyak tak terkira kesedihan yang kami rasakan saat ini. Kami ingin tempat sekolah kami seperti dulu lagi tanpa ada ketakutan dan kecemasan untuk menjejakkan kaki di bukit gemilang ini. Hanya itu harapan kami dan hanya itu pinta kami. Sungguh hati kami teriris dan pilu melihat dunia pendidikan ini harus di campakkan seperti membuang sampah di kali, tak pernah ada kepedulian dan selalu tak berperasaan. Sunguh Hatinya keras di bekukan oleh dunia yang fana ini.
Semoga secuil ratapan kami ini tak hanya di pandang sebelah mata oleh orang orang yang bertanggung jawab akan semua masalah ini.

0 komentar:
Posting Komentar